Anak Sering Membandingkan Diri dengan Teman? Begini Cara Menyikapinya
"Kenapa punya mainan itu, aku enggak punya?" atau "Si A sudah bisa membaca, aku belum" — kalimat semacam ini wajar muncul seiring anak mulai aktif bersosialisasi dan membandingkan dirinya dengan teman sebaya.
Pahami Ini Bagian dari Perkembangan Sosial Anak
Kemampuan membandingkan diri dengan orang lain muncul seiring anak memahami konsep diri dan lingkungan sosialnya. Ini bukan tanda anak manja atau kurang bersyukur, melainkan tahap perkembangan yang wajar.
Validasi Perasaannya Tanpa Membenarkan Tuntutannya
Akui perasaan anak ("Ibu paham kamu ingin punya yang sama"), tanpa harus langsung memenuhi semua keinginannya hanya karena temannya punya atau bisa melakukan sesuatu.
Bantu Anak Fokus pada Kelebihannya Sendiri
Ajak anak mengenali hal-hal yang menjadi kelebihannya sendiri, supaya anak belajar menghargai keunikan dirinya, bukan terus mengukur diri dari pencapaian orang lain.
Hindari Ikut Membandingkan Anak dengan Orang Lain
Orang tua perlu berhati-hati tidak secara sengaja maupun tidak sengaja membandingkan anak dengan saudara atau temannya ("coba kamu kayak si A"), karena ini justru memperkuat kebiasaan membandingkan diri yang tidak sehat.
Ajarkan Konsep Bersyukur Secara Konkret
Libatkan anak dalam kegiatan mensyukuri apa yang dimiliki, misalnya dengan menyebutkan hal-hal baik dalam hidupnya sebelum tidur, supaya rasa syukur menjadi kebiasaan yang nyata, bukan sekadar nasihat.
Rasa iri atau ingin menyamai teman adalah bagian normal dari tumbuh kembang sosial anak. Cara orang tua meresponsnya menentukan apakah anak tumbuh dengan rasa syukur yang sehat, atau justru terus terjebak membandingkan dirinya dengan orang lain.
Pertanyaan Seputar Anak yang Suka Membandingkan Diri
Apakah wajar anak usia dini sudah merasa iri pada temannya?
Sangat wajar, bahkan ini tanda anak mulai memahami konsep sosial dan perbandingan, yang merupakan bagian normal dari perkembangan kognitifnya.
Bagaimana jika anak menangis karena ingin memiliki barang yang sama dengan temannya?
Validasi perasaannya, jelaskan dengan lembut alasan tidak selalu bisa memenuhi semua keinginan, dan alihkan perhatian pada hal lain yang bisa dinikmati anak.
Apakah rasa iri ini berbahaya jika dibiarkan terus-menerus?
Jika tidak didampingi, rasa iri yang terus-menerus bisa berkembang jadi kebiasaan buruk membandingkan diri hingga dewasa, sehingga penting bagi orang tua mendampingi dan membimbingnya sejak dini.
Baca juga 1. Melatih Anak Berbagi dan Bermain Bersama Teman Tanpa Rebutan 2. Mengajarkan Anak Sedekah dan Berbagi Sejak Usia Dini 3. Jadwal dan syarat pendaftaran siswa baru
Artikel ini merupakan bagian dari panduan parenting Yayasan Pendidikan Hijratul Fath.